ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD
Ummu al-Mu'minin (Ibu orang-orang beriman) adalah penyebutan kehormatan bagi istri-istri dari nabi Muhammad SAW. Muslim menggunakan istilah tersebut sebelum atau sesudah nama istrinya. Istilah ini diambil dari ayat Quran, yang berbunyi:“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka...( Al-Ahzab ayat 6)”Dalam sejarah hidupnya, nabi Muhammad SAW seringkali disebutkan menikah dengan 12 orang wanita. Terdapat kisah bahwa ia menikah dengan dua orang wanita lainnya, tetapi diceraikannya sebelum mereka sempat bersama-sama, yaitu Amrah binti Yazid dari Bani Qilab dan Asma binti Nu'man dari Bani Kindah.
Di zaman nabi dulu, kebiasaan orang Arab memiliki isteri lebih dari satu, dan itu terkait dengan budaya masyarakatnya. Bahkan sampai saat ini banyak orang Arab yang punya isteri lebih dari satu. Memiliki isteri lebih dari satu pada zaman itu sudah biasa (bukan tabu), apalagi bagi kaum bangsawan, raja atau pembesar jarang ada yang memiliki istri hanya satu.
Para nabi-nabi terdahulu juga banyak yang memiliki isteri lebih dari satu, misalnya nabi Sulaiman konon mempunyai istri kurang lebih 700 wanita, nabi Isa konon punya istri sebanyak lima wanita (istri pertamanya bernama Maryam Magdalena dan yang kedua adalah Lydia), nabi Ibrahim memiliki 3 isteri (Sarah, Hajar dan Qutsurah), nabi Ya’kub memiliki 5 orang isteri, nabi Dawud memiliki 9 isteri, dan begitu juga dengan nabi-nabi yang lain.
Namun demikian, khusus nabi Muhammad SAW yang pernah memiliki isteri kurang lebih 12 orang, banyak yang tidak senang kepada beliau, terutama orang-orang kafir (kaum Yahudi/ orang di luar Islam). Bahkan mereka menyerang pribadi beliau dengan menjelek-jelekkan sifat beliau yang doyan kawin, pelecehan seksual, suka gonta-ganti wanita, dan sebagainya. Padahal para pencela (terutama orang-orang kafir yang anti Islam), nabi-nabi mereka juga punya isteri lebih dari satu. Ibaratnya mereka pandai mengoreksi orang lain, tapi dirinya sendiri tidak dikoreksi (maling teriak maling).
Para istri nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW menikahi para wanita pada zaman itu bukan semata-mata hanya menuruti nafsu belaka, tapi ada unsur dakwah (untuk menyebarkan agam Islam). Bahkan konon, banyak isteri-isteri nabi Muhamamd SAW terdiri dari para janda tua yang ditinggal mati suaminya yang jihad di medan perang. Bisa juga anak suku berpengaruh yang sering mengganggu Islam dan kalah perang, lalu dinikahi oleh beliau agar rakyatnya mau masuk Islam. Dengan demikian nabi Muhammad SAW menikahi para wanita ada tujuan tertentu, yaitu untuk melancarkan dakwah Islam di tanah Arab.
Satu-satunya wanita yang masih gadis/perawan yang dinikahi oleh nabi Muhammad SAW hanya Aisyah ra. (puteri sahabat nabi, Abu Bakar Siddiq). Bahkan beliau menikahi para wanita tersebut atas perintah Allah SAW melalui wahyu.
Adapun isteri-isteri nabi Muhammad SAW yang tercatat dalam sejarah, antara lain: (1) Khadijah binti Khuwailid, (2) Saudah binti Zum'ah, (3) Aisyah binti Abu Bakar, (4) Hafshah binti Umar, (5) Zaynab binti Khuzaymah, (6) Hindun binti Abi Umayyah, (7) Zaynab binti Jahsy, (8) Juwayriyah binti Harits, (9) Ramlah binti Abu Sufyan, (10) Shafiyah binti Huyay, (11) Maymunah binti al-Harits, (12) Maria binti Syama’un (Mariah al-Qibthiya)
(1) Khadijah binti Khuwailid
Ia merupakan istri Nabi Muhammad yang pertama. Sebelum menikah dengan Nabi, ia pernah menjadi istri dari Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan telah melahirkan empat orang anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, yaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah yaitu Hindun dan Zainab.
Berbagai riwayat memaparkan bahwa saat Muhammad SAW menikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Nabi hanya berumur 25 tahun. Nabi Muhammad SAW bersama dengannya sebagai suami istri selama 25 tahun, yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama, dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Khadijah wafat saat nabi Muhammad SAW berusia 50 tahun.
Khadijah merupakan istri nabi Muhammad SAW yang tidak pernah dimadu, karena semua istrinya yang dimadu dinikahi setelah wafatnya Khadijah. Maskawin dari nabi Muhammad SAW untuk Khadijah sebanyak 20 bakrah. Sedangkan upacara pernikahan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.
Pernikahannya dengan Khadijah menghasilkan keturunan hanya enam orang, yaitu: Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah. Al Qosim mendapat julukan Abul Qosim, sedangkan Abdullah mempunyai julukan at Thoyib at Thohir yang berarti "Yang Bagus dan Lagi Suci".
(2) Saudah binti Zam'ah
Nabi menikah dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah. Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah Al-Sakran bin Amr dan meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah. Rasulullah menikahi Saudah untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya.
Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.
(3) Aisyah binti Abu Bakar
Aisyah adalah satu-satunya istri Muhammad yang masih gadis pada saat dinikahi. Aisyah dinikahkan pada tahun 620 M. Akad nikah diadakan di Mekkah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah Muhammad menikah dengan Saudah. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan maskawin 400 dirham.
Hadits mengenai umur Aisyah tatkala dinikahkan adalah problematis (masih terjadi perselisihan). Hisyam bin ‘Urwah adalah satu-satunya yang mengabarkan tentang umur pernikahan Aisyah, yang didengarnya dari ayahnya. Bahkan Abu Hurairah ataupun Malik bin Anas tidak pernah mengabarkannya. Beberapa riwayat yang termaktub dalam buku-buku hadits berasal hanya dari Hisyam sendiri, dan hadits ini dianggap dhaif (lemah/tidak kuat).
Hisyam bin ‘Urwah menyatakan bahwa Aisyah dinikahkan ketika berumur 6 tahun. Muhammad tidak bersama dengannya sebagai suami-istri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 9 tahun sementara nabi Muhammad berumur 53 tahun.
Ibnu Syaibah menambahkan bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Irak. Dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi hadits, tersebut bahwa saat Hisyam berusia lanjut, dan ingatannya sangat menurun/pikun (sehingga diragukan kebenarannya).
Menurut Tabari, keempat anak Abu Bakar (termasuk Aisyah) dilahirkan oleh istrinya pada zaman Jahiliyah, artinya sebelum 610 M. Apabila Aisyah dinikahkan sebelum 620 M, maka ia dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami-istri dengan Muhammad dalam umur di atas 13 tahun. Menurut Abd alRahman bin Abi Zannad: “Asmah 10 tahun lebih tua dari Aisyah.” Menurut Ibnu Hajar al-'Asqalani, Asmah hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah. Apabila Asmah meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal dalam tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah berumur (27 atau 28) - 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijrah. Itu berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Muhammad pada waktu berumur 18, 19 atau 20 tahun.
Jadi tidak benar kalau nabi menikahi Aisyah pada umur 6 atau 9 tahun, walaupun ada beberapa hadist yang menceritakannya.
Nabi menikahi Aisyah atas petunjuk Allah SWT melalui wahyu. Aisyah adalah seorang wanita yang cerdas. Terbukti Aisyah banyak meriwayatkan hadist nabi setelah Abu Hurairah dan Anas bin Malik. Bahkan Aisyah tergolong 3 orang periwayat hadist terbanyak.
(4) Hafshah binti Umar bin al-Khattab
Hafsah adalah anak Umar bin Khattab, sahabat nabi. Hafsah adalah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Umar bin Khattab menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa ia bersedia menikahi Hafshah.
Hafsah adalah istri Nabi yang berjasa pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.
(5) Hindun binti Abi Umayyah (Ummu Salamah)
Hindu (Ummu Salamah) adalah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu, lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.
Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.
(6) Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)
Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.
Melalui al Najashi, nabi Muhammad melamar Ummu Habibah dan upacara pernikahan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan maskawin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.
(7) Juwayriyah (Barrah) binti Harits
Ayah Juwairiyah Al-Harist, adalah ketua kelompok Bani Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tentaranya untuk memerangi nabi Muhammad dalam Perang al-Muraisi'. Setelah ayah Juwairiyah tewas dan ia ditawan oleh Tsabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Rasulullah kemudian menikahinya dengan tebusan/mas kawin 9 tail emas.
(8) Shafiyah binti Huyay
Shafiyah adalah anak dari Huyay, ketua suku Bani Nadhir, yaitu salah satu Bani Israel yang berdiam di sekitar Madinah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin al-Rabi telah tertawan. Dalam satu perundingan setelah dibebaskan, Safiyah memilih untuk menjadi istri nabi Muhamad.
Shafiyah memiliki kulit yang sangat putih dan memiliki paras cantik, sehingga membuat cemburu istri-istri Muhammad yang lain. Bahkan ada istri nabi Muhammad SAW dengan nada mengejek mengatakan, bahwa dirinya adalah wanita asing (Yahudi). Bahkan suatu ketika Hafshah, istri nabi yang lain sampai mengeluarkan kata-kata, ”Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan Shafiyah menangis dan mengadu kepada nabi Muhammad SAW.
Mendengar pengaduan Safiyah, Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang putri nabi, dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi. Lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?”
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!” Selanjutnya Shafiyah berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku (leluhur) adalah Harun dan pamanku adalah Musa?” Shafiyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah.
(9) Zaynab binti Jahsy
Zaynab binti Jahsy merupakan istri Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad SAW setelah dia dimerdekakan. Hubungan suami istri antara Zainab dan Zaid tidak bahagia karena Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad SAW. Setelah bercerai (menjanda), nabi Muhammad menikahi Zainab dengan maskawin 400 dirham.
(10) Zaynab binti Khuzaymah
Zaynab binti Khuzaimah adalah putri Khuzaymah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “Ibu orang-orang miskin” karena kedermawanannya terhadap orang-orang miskin. Sebelum menikah dengan nabi Muhammad SAW, ia adalah istri dari Abdullah bin Jahsy. Setelah bercerai (menjanda), ia dinikahi oleh nabi Muhammad SAW pada tahun ke-3 H, dan hidup bersamanya selama dua/tiga bulan, karena Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu Nabi masih hidup.
(11) Maymunah binti al-Harits
Maymunah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah bibi dari Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas. Rasulullah saw menikahinya di tempat yang bernama Sarif suatu tempat mata air yang berada sembilan mil dari kota Mekah. Ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Muhammad. Wafat di Sarif pada tahun 63 H.
(12) Maria binti Syama’un (Mariah al-Qibthiya)
Mariah al-Qibthiyah adalah seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim.
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia. Namun Ibrahim meninggal dalam usia 4 tahun. Mariyah al-Qibtiyah wafat pada 16H/637 M.
Isteri-isteri nabi yang batal menjadi Ummu al-Mukminin
(Asma' binti al-Nu'man dan Amrah binti Yazid)
Diantara semua para istrinya, hanya kedua wanita ini saja yang telah dinikahi nabi, tetapi kemudian bercerai. Wanita tersebut bernama Asma' binti al-Nu'man dan Amrah binti Yazid. Nabi Muhammad menikah dengan Amrah ketika Amrah baru saja memeluk agama Islam.
Komentar
Posting Komentar